11 Okt 2013

Tata Cara Adat Batak Toba dan Tutur Orang Batak

Ada beberapa maca tata cara ada batak toba, yang salah satunya adalah Paratur ni parhundulon (Posisi Duduk). 

Didalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturon) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.

Paratur ni parhundulon atau posisi duduk adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan ini, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing.

Petuah nenek moyang kita:
  • Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan
  • Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”:
  1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
  2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
  3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
  1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
  2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
  3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
  4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
  5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
  6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
  7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan ) 
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha : 

9 Okt 2013

Asal Usul Kelahiran Sinaga

Sianjur Mula-Mula adalah kampung dari Saribu Raja dengan ketiga saudara lelakinya yakni Limbong  Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja dengan kelima saudarinya yakin Boru Pareme,  Boru Bidding Laut, Nai Ambaton, Nai Suanon, Nai Rasaon.

Di dekat Sianjur Mula-mula itu ada tempat yang bernama Ulu Darat, dimana dipercaya saat itu sebagai hutan keramat. Mitos pusuk buhit menyebutkan bahwa dibawah tempat itulah posisi kepala dari Naga Padoha berada, yang dalam legenda dianggap sebagai penjaga Banua Tonga (Bumi). Ekornya ada di laut setelah di benamkan oleh Boru Deak Parujar (baca Legenda Boru Deak Parujar).

Di hutan inilah tempat persembunyian Saribu Raja dan Boru Pareme yang telah melakukan perkawinan sedarah. Begitulah juga Si Raja Lontung dengan istrinya (yang merupakan ibunya sendiri) Boru Pareme bersembunyi. Dalam bayangan intaian saudara-saudaranya yang menginginkan darah Si Raja Lontung dan Boru Pareme yang sedang hamil juga bersembunyi di daerah itu. Daerah kramat yang dipercaya tidak akan di masuki oleh saudara-saudaranya. 

Tarombo / Silsilah Sinaga Uruk

Sinaga Uruk adalah Putra bungsu dari dari Sinaga yang dikenal juga sebagai Ompu Sihasagian.



Tarombo / Silsilah Sinaga Ompu Ratus

Sinaga Ratus adalah Putra kedua dari Sinaga yang dikenal juga sebagai Ompu Ratus. Berikut Tarombo Sinaga Ompu Ratus.




Tarombo / Silsilah Sinaga Bonor Pande

Dari Dua Versi yang didapat ini penulis lebih condong pada Versi St. YAP dari Hatoguan Palipi, berdasarkan cerita Penyerangan Sisingamangaraja I (Ompu Manguntal) (Nomor VIII dari Raja Batak) yang menewaskan Panglimanya Si Pisosomalim DolokSaribu (Dolok Saribu no. IX dari Raja Batak) dimana Lontung yang menurut Sitor Situmorang (Toba Na Sae) menikahi saudari dari Sisingamangaraja I (br. Sinambela), dan dalam ini Ompu Paltiraja ada pada nomor VIII, jadi lebih sesuai dengan kisah itu. Inilah Tarombo Sinaga Bonor Pande versi St. YAP dari Hutatoguan – Palipi.  

Versi St. YAP Hatoguan Palipi

Versi Ronggur Ni Huta





8 Okt 2013

Tarombo / Silsilah Sinaga

TAROMBO SINAGA RAJA
Tarombo Marga Sinaga seperti di bawah ini yang umum di ketahui orang, tetapi ada sumber-sumber dari Simalungun (dari Parapat)yang mengatakan bahwa Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang adalah masih turunan Sinaga bonor Suhutnihuta seperti gambar terlampir dibawah ini. Tapi dari Toba Simanjorang, Simaibang dan Simandalahi adalah anak dari Jorang Raja (cucu Datu Hurung).

Kedua gambar isinya sama, gambar pertama transparan (tanpa background) yg kedua sudah ada background tugu Sinaga. 



klik gambar untuk memperbesar..

Sejarah Terbentuknya PPTSB

SEJARAH BERDIRINYA PPTSB 1940 DI MEDAN

Perkumpulan Sinaga terinspirasi dari perkumpulan Si Raja Lontung yang ada di Medan pada Tahun 1938, yakni Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar, beserta Boru yaitu Sihombing-Simamora. Pengurus pada waktu itu adalah St. Christian Radjagoekgoek sebagai Ketua dan dibantu oleh Herman Sinaga dan Monis Levi Sinaga.
Pada tahun 1940, timbul keinginan marga Sinaga untuk membentuk
kesatuan tersendiri. Untuk maksud itu dibentuklah Panitia untuk mencari/mengumpulkan anggota yakni:
Ketua: Ranatus Sinaga (Peg. OGEM). Sekretaris: Djongok Manase Sinaga (Peg. Dunlop). Anggota: Monis Levi Sinaga (Polisi/Reserse), Simon Sinaga, Boengaran Sinaga (Peg. Percetakan Sinar Deli Courant), Herman Sinaga (Peg. Contabiliteit / KPN).
Setelah anggota terkumpul diada-kan Rapat Anggota (setelah mendapat izin dari Pemerintah Hindia Belanda cq. PID melalui M. Levi Sinaga, waktu itu harus demikian). Rapat diadakan pada tanggal 15 Desember 1940, bertempat di Gedung Chrestelijke Batak School (CBS) di Jl. Sei Kera, Medan. Hasil Rapat antara lain:
1. Terbentuk Parsadaan Pomparan Toga Sinaga (PPTS) Medan, Langkat dan Deli Serdang.
2. Yang berhak menjadi anggota adalah warga Sinaga beserta muda-mudi Sinaga dan boru Sinaga atau Sinaga/Boru.
3. PPTS didirikan sejak tanggal 15 Desember 1940 dan nama ini digunakan selama 29 tahun.
KEGIATAN/JALANNYA ORGANISASI Periode – I Tahun 1940 – 1951
Susunan Pengurus:
Voorzitter/Ketua: Herman Sinaga, Sekretaris:Djongok Manase Sinaga. Penningmeester/Bendahara: Boengaran Sinaga. Ajun Penningmeester: S.W. Maroehoem Sinaga. President Commiss: Renatus Sinaga. Commissarissen/Komisaris: M. Levi Sinaga, Simson Sinaga, Alexander Sinaga, Josia Sinaga. Adviseur/Penasehat: Melanton Sinaga.
Kegiatan
Sesudah PPTS berdiri dengan kepengurusan lengkap, disusunlah AD/ART. Beberapa poin penting dalam AD/ART adalah: agar saling membantu dalam suka dan duka melalui Steinfonds (Derma), Spaarfonds (Menyimpan uang pada PPTS) dan mendirikan Verbruiks Cooperative (Koperasi keperluan rumah tangga).
Sesuai dengan peraturan Pemerintah Hindia Belanda, bahwa setiap organisasi yang akan berdiri harus dilaporkan dan disahkan. Atas dasar ini, pengurus PPTS melaporkan membuat usulan pendirian PPTS secara lengkap dengan melampirkan AD/ART. Karena PPTS adalah organisasi yang tidak berbau, maka Pemerintah Hindia Belanda PPTS mengesahkan sebagai suatu organisasi resmi dengan Surat No. 8027 Medan 29 April 1941 ditanda tangani oleh wg. Van Gelder.
Tetapi tak lama setelah pengesahan tersebut, salah seorang pengurus yakni sekretaris Djongok Manase Sinaga wafat pada tanggal 17 Mei 1941. Sebagai gantinya pengurus mengangkat Arcenius Sinaga menjadi Secretaris, sedangkan Pimpinan Cooperative diserahkan kepada Boengaran Sinaga bekerja sama dengan Renatoes Sinaga dan Herman Si-naga. Mereka mendatangkan beras dari Porsea dan Balige, juga meyediakan gula, sabun, kain panjang/batik dan lain-lain, yang pembayarannya didahulukan/dijamini dari toke, kemudian diantar ke rumah anggota pakai bon, dengan ketentuan bulan berikutnya harus dibayar. Demikianlah usaha tersebut berjalan dengan lancar.
Masa-masa Peralihan
Pada masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda tahun 1942–1945, banyak terjadi perubahan, terutama keadaan Ekonomi yang sangat sulit, khususnya kebutuhan sandang dan pangan yang sangat minim. Akibatnya kegiatan PPTS pun terpengaruh oleh kondisi perekonomian saat itu. 
 
Copyright 2013 PPTSB USA